Fenomena Sarjana Menganggur di Indonesia, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Setiap tahun, ada ribuan mahasiswa diwisuda. Kampus penuh dengan toga dan senyum bangga. Tapi beberapa bulan setelahnya, suasananya berubah.

Grup alumni mulai sunyi, obrolan tentang kerja impian digantikan dengan pertanyaan klasik…

🗨️“Lamar kerja di mana sekarang?”

Fenomena sarjana menganggur bukan hal baru di Indonesia. Ironisnya, gelar yang dulu kita anggap sebagai tiket emas menuju masa depan cerah, kini nggak selalu menjamin kestabilan karir.

Banyak lulusan, termasuk dari universitas ternama sekalipun, terjebak dalam fase menganggur. Terombang-ambing antara idealisme dan realita pasar kerja.

Tau apa yang bikin lebih nyesek?

Makin ke sini, masalah sarjana menganggur justru makin besar – cari kerja makin sulit, sarjana jumlahnya kian banyak, sampai nggak sesuainya kompetensi sarjana dengan kebutuhan pasar – semua jadi satu.

Info terakhir yang Kepomin dapat saat nulis artikel ini, jumlah sarjana pengangguran di Indonesia sudah mencapai satu juta orang!

Ya, kamu gak salah baca. SATU JUTA ORANG!

Belum lagi tuntutan hidup yang kian besar dan menata masa depan yang tambah sulit, membuat sarjana yang menganggur kian tertekan dan pesimis.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Apakah ini salah sistem? Kurikulum? Atau kitanya yang terlalu pasif nunggu lowongan?

Ini bukan masalah sepele. Sebagai generasi muda, kita tentu harus paham sama isu ini dan harus mulai menata diri sebaik mungkin untuk menghadapi tantangan seperti ini.

Kita akan bareng-bareng menelusuri fenomena sarjana menganggur di Indonesia, dari akar masalah sampai solusi konkret yang bisa kita ambil di artikel ini.

Karena, kalimat kaya “semangat, semua akan baik-baik saja” nggak akan menyelesaikan masalah.

Kenapa Sarjana Menganggur di Indonesia Banyak Banget?

Sebelum bahas solusi, yuk kita jujur dulu soal masalah pengangguran di Indonesia. Karena faktanya, kita nggak bisa nyalahin satu atau dua faktor aja.

1. Lulusan Terlalu Banyak, Lapangan Kerja Terbatas

Setiap tahun, ratusan ribu bahkan jutaan mahasiswa lulus. Tapi, apakah ada cukup lapangan kerja untuk semuanya? Belum tentu.

Itu yang bikin persaingan dunia kerja makin susah. Satu kursi bisa jadi rebutan ratusan bahkan ribuan orang.

2. Jurusan yang Nggak Selaras dengan Kebutuhan Industri

Gak bermaksud mendiskreditkan jurusan tertentu. Tapi, banyak jurusan yang belum tentu relevan atau langsung dibutuhkan oleh pasar kerja saat ini, dan itu fakta.

Ibaratnya, ada beberapa jurusan yang ada untuk memenuhi kebutuhan yang ultra spesifik dan itu nggak dibutuhin sama industri. Jadi, harus cari kerjanya di luar industri yang secara kuantitas lowongannya juga sedikit.

3. Minim Pengalaman dan Skill Praktis

Banyak fresh graduate yang hanya punya teori tanpa pengalaman atau keahlian teknis yang dibutuhkan perusahaan.

Salah fresh graduate? Bisa iya, bisa nggak. Karena faktanya, banyak juga keluhan dari industri yang bilang kalau kurikulum kuliah pun seringkali nggak relevan sama tren industri.

4. Persaingan Makin Ketat

Saingan kamu bukan cuma teman satu kampus. Tapi seluruh Indonesia. Bahkan kadang harus bersaing sama yang udah berpengalaman bertahun-tahun.

5. Kurangnya Networking dan Exposure ke Dunia Kerja Sejak Dini

Banyak yang baru “sadar” harus punya CV atau portofolio setelah lulus. Padahal, semuanya bisa dimulai sejak kuliah.

Ditambah lagi, networking dan exposure itu adalah hal yang susah buat kamu dapat.

Kamu kira modal ikut himpunan atau organisasi kampus ini itu bakal jadi cheat code biar kamu punya koneksi luas untuk perkembangan karir? Gak ada yang jamin.

Banyak yang terbantu karirnya karena kenalan di organisasi kampus. Tapi, banyak juga yang struggling menganggur dalam waktu lama padahal sudah ikut organisasi ini itu selama kuliah. Meskipun kamu punya skill dan aktif cari kerjaan.

Lalu, Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Melihat fakta di lapangan yang kaya gitu, ada banyak jalan yang bisa Kepowan lakukan. Mau itu kamu sekarang lagi di posisi struggling mencari kerja ataupun sekarang masih sekolah/kuliah dan akan menghadapi dunia kerja yang keras di masa depan.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan, antara lain:

1. Cari Tahu Apa Tujuanmu di Masa Depan

Cari tahu apa tujuan hidupmu di masa depan itu penting banget. Kalau Kepomin bilang, ini sudah harus kamu tahu bahkan sebelum masuk dunia kerja.

Kenapa? Karena tujuanmu ini adalah peta yang akan menuntun hidupmu. Beda tujuan, beda pula prioritas yang harus kamu lakukan.

2. Seimbangkan Mindset Idealis dan Realistis

Kepowan pernah sekolah, kuliah, dan di posisi nyari kerja. Menurutku, sebaiknya kamu harus seimbangkan antara idealisme dan realita.

Aku tahu umur 20an awal itu semangat lagi tinggi-tingginya dan banyak di antara kita yang idealis banget. Kata di bawah ini pasti gak asing…

🗣️“Pokoknya aku mau…..”

Jadi idealis itu gak salah. Justru, menurutku ada bagusnya karena itu nunjukin kita punya prinsip, pendirian, dan tujuan.

Tapi… Ada satu hal yang harus kamu ingat seumur hidup.

Dunia nggak akan ramah dengan siapapun. Nggak semua orang akan mencapai apa yang dia mau.

Gagal menyeimbangkan dua hal ini nggak akan baik. Trust me.

💢Terlalu idealis – bikin kamu terlalu ego dan kemakan gengsi.

🥲Terlalu realistis – bikin kamu terombang-ambing dan susah nunjukin value. Bakal agak susah untuk dihargai layak di dunia kerja.

Ada jutaan orang di luar sana yang punya tujuan yang sama kaya kamu. Tapi, banyak juga yang struggling nganggur dalam waktu yang lama. Jangan salah, banyak di antara mereka yang justru rajin dan cerdas. Bahkan bisa jadi melebihimu.

Artinya apa? Kamu juga harus sadar sama realita. Suka nggak suka, mau nggak mau, kamu harus siap kalau misalnya masa depan bersikap “kejam” padamu.

Jadi, seimbangkan mindset idealis dan realistismu. Kamu harus berusaha ngejar tujuanmu, tapi jangan sampai nutup pintu untuk opportunity lain yang nggak sesuai sama idealismu.

Kepomin dulunya mahasiswa jurusan kesehatan. Lulus tepat waktu juga. Idealismeku juga nggak muluk-muluk – nyari kerja yang aku mampu kerjakan (sesuai skill).

Nggak anti sama peluang baru, level company tertentu, ataupun range gaji tertentu – pokoknya selama masih waras, aku oke.

Tapi, karena dulu zamannya COVID dan nyari kerja emang dasarnya susah, aku pun pernah ngambil beberapa jenis pekerjaan.

👨🏻‍🏫Ngajarin anak SMA buat persiapan UTBK (SNBT zaman dulu)? Pernah.

📰Nyetop orang di mall buat nawarin progam NGO? Pernah.

🥦Ambil freelance buat konsultasi kesehatan bareng dosen? Pernah – ini masih enak sesuai sama profil pendidikan Kepomin.

Sampai akhirnya – Kepomin berhasil dapat kerjaan yang sesuai sama jurusan. Ya, meskipun beberapa bulan kemudian career shifting ke digital marketing dan justru ngerasa lebih betah.

Cuma intinya – bisa seimbang antara idealis dan realistis bikin kamu punya kesempatan yang lebih besar dan luas.

3. Fokus Cari Kerja, Tapi Jangan Sembarangan

Kalau kamu emang maunya jadi expert di bidang tertentu dan cari kerja setelah lulus kuliah, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan:

Fokus cari kerja bukan berarti apply semua lowongan yang kamu temui. Coba mulai dari sini:

  • Tentukan dulu jenis pekerjaan atau bidang apa yang ingin kamu tuju

Jangan ngasal. Punya tujuan akan bantu kamu lebih terarah dan efektif. Tapi, jangan pernah nutup diri buat belajar hal baru.

Setiap kamu cek lowongan – pastikan pengalaman, jobdesc, dan gajinya sesuai dengan profilmu serta harga pasaran yang ada di tempat tinggalmu.

  • Perbarui dan rapikan CV & portofolio kamu

Jangan malu minta feedback dari orang lain. Kamu bisa pakai tools gratis seperti Canva untuk bikin CV yang menarik. Bahkan, lowongan kerja sekarang itu banyak yang nerima CV ATS yang justru nggak perlu effort ngedesain.

  • Mulai dari internship, project freelance, atau volunteer

Kalau belum dapat kerja tetap, cari pengalaman. Bangun rekam jejak. Jangan nunggu “yang ideal”, karena kadang pintu karier dibuka lewat jalan kecil.

  • Aktif di platform profesional

LinkedIn bisa jadi ladang peluang, bukan sekadar pajangan gelar. Bangun personal branding di sana.

4. Lanjut Kuliah (S2), Tapi Jangan Cuma Buat Kabur

Mungkin ada beberapa orang yang akan tersinggung baca bagian ini. Banyak yang lanjut S2 karena bingung atau merasa “biar dibilang sibuk” (alias kabur dari masalah menganggurnya).

Sorry, tapi lulusan sarjana generasi Z (which is generasinya Kepomin juga), itu buanyaaakkk yang ngelakuin hal ini. 

Padahal, lanjut kuliah harus punya tujuan jelas:

🎓Apakah kamu memang butuh S2 untuk bidang yang kamu incar?

🔬Sudah tahu ingin riset apa atau ke arah mana spesialisasinya?

💸Sanggup dari sisi biaya dan mental?

Program S2 itu bukan buat semua orang. Kalau tujuanmu saja nggak jelas, kamu akan buang-buang waktu, tenaga, dan uang dengan gaya.

Ada beberapa kondisi yang membuatmu justru lebih baik langsung ambil S2 setelah lulus S1, yaitu:

🧑🏻‍🏫Punya cita-cita jadi dosen atau researcher.

💖Kalau lulusan S1 psikologi, mau jadi psikolog justru perlu ambil S2.

💼Nyari peluang kerja yang mensyaratkan S2.

🏆Dapat tawaran langsung dari kampus atau lembaga kalau kamu pinter banget dan dapet IPK tinggi – apalagi kalau beasiswa – biasanya yang ini juga sering jadi dosen atau researcher akhirnya.

🏫Kamu tipikal orang yang lagi “benar-benar panas” secara akademis – selagi kamu punya waktu dan uang yang cukup.

5. Bangun Skill yang Dibutuhkan Sekarang

Di era digital, skill adalah mata uang baru. Entah kamu dari jurusan teknik, hukum, sastra, atau manajemen – kamu tetap butuh skill kaya:

  • Komunikasi dan public speaking.
  • Problem solving
  • Critical thinking.
  • Digital literacy (misalnya kaya spreadsheet, tools AI, dll)
  • Bahasa asing, terutama Inggris.

Kamu bisa mulai dari platform seperti Coursera, Udemy, atau bahkan YouTube. Banyak yang gratis, tinggal niat.

6. Jangan Gengsi dan Malu Mulai dari Nol

Kadang kita terlalu gengsi. Ngerasa karena sarjana, harus langsung kerja di kantor gede, gaji besar, pakai ID card keren.

Tapi kenyataannya, semua orang mulai dari titik berbeda.

Gaji nggak sebesar perusahaan bonafid? Wajar.

Kerja serabutan dulu? Sah. Yang penting kamu tetap jalan. Bukan berhenti nunggu keberuntungan datang.

Waktunya Berdamai, Bangkit, dan Bergerak

Menganggur itu gak enak. Kepomin pernah di titik itu – habis lulus, nggak dapat-dapat kerjaan, CV kosong, dan ngerasa kalah start.

Tapi di situ aku belajar: gak ada yang akan nyelametin kita kalau bukan diri sendiri. Sekecil apa pun langkahmu hari ini, selama itu ke arah yang benar, kamu tetap bergerak.

Sarjana menganggur bukan berarti selamanya kamu akan di bawah. Justru cuma ngeluh dan diam terus bisa jadi awal dari masalah yang lebih besar.

Jadi, yuk, bangkit dan mulai dari apa yang bisa kamu kendalikan. Karena kesempatan dan rezeki bisa datang dari hal yang kita nggak pernah kira sebelumnya.

Yuk, Bagikan ke Temanmu!
KepoMin
KepoMin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *