Sering banget kita dengar berita kalau saat ini nyari kerja itu susah banget. Mau itu buat lulusan baru sampai yang sudah pengalaman. Semuanya ngalamin keresahan yang sama.
Apalagi kalau kita lihat dari PoV tingkat kelulusan sarjana. Tiap tahun, ada banyak banget sarjana yang diwisuda dan dunia bursa kerja Indonesia ketambahan tenaga siap kerja dalam jumlah yang banyak (banget).
Maka nggak mengherankan kalau pada akhirnya bakal ada persaingan ketat saat mencari kerja. Pencari kerja bakal bersaing sama:
👷🏻‍♂️Orang yang lebih berpengalaman.
🧑🏻‍🎓Lulusan baru yang muncul tiap tahunnya.
Artinya apa? Tiap tahun, nyari kerja bisa kita anggap makin susah. Nyari kerja rasa battle royale.
Hal ini makin diperparah sama lowongan kerja seram yang sering ada di internet – standarnya elit, tapi buat ngasi gaji layak pun sulit.
Kondisi kaya gini bikin banyak banget pekerja di Indonesia pada akhirnya kerja dengan upah yang nggak layakđź’”
Makin ke sini dunia kerja keliatan makin suram? Tapi, bukan berarti kamu mustahil buat bisa dapat kerja. Nggak cuma sekadar dapat kerja, tapi bisa kerja di tempat yang layak.
Artikel ini bakal kupas tuntas apa saja faktor-faktor yang bikin kita susah dapat kerja dan solusinya.
Sudah siap?
Kenapa Susah Cari Kerja Sekarang? Ini Penyebab Utamanya
Ada beberapa faktor yang bikin makin susah nyari kerja di zaman sekarang, berikut penjelasannya:
1. Skill dan Pengalaman Nggak Relevan dengan Industri
Salah satu alasan utama kenapa zaman sekarang susah nyari kerja yaitu karena banyak orang punya skill dan pengalaman yang nggak relevan sama kebutuhan industri.
Banyak pencari kerja yang sudah ikut kursus, cari sertifikasi, atau punya portofolio ringan. Meskipun relevan, tapi sayangnya itu bukan jaminan kamu pasti dapat kerja yang sesuai ekspektasi.
Belum lagi kalau kita bicara materi kuliah lebih banyak teori ketimbang praktik, membuat sebagian lulusan jadi sulit adaptasi dengan kebutuhan nyata di lapangan.
2. Persaingan Pengalaman vs Fresh Graduate Semakin Ketat
Sekarang kamu nggak cuma bersaing dengan lulusan baru, tapi juga dengan mereka yang sudah punya pengalaman bertahun-tahun.
Ditambah lagi, PHK besar-besaran pas COVID dan di tahun 2025 bikin jumlah pekerja berpengalaman yang kembali masuk bursa kerja meningkat, yang akhirnya bikin persaingan makin sengit.
3. Pasar Kerja yang Membingungkan dan Proses Rekrutmen Lama
Zaman sekarang, perekrutan kerja bisa memakan waktu hingga beberapa minggu hanya untuk satu proses seleksi.
Belum lagi ada fenomena “ghost job”, lowongan yang dibuat hanya untuk promosi perusahaan. Hal ini bikin pencari kerja kehilangan waktu berharga.
4. Ketidaksesuaian Antara Pendidikan dan Kebutuhan Pasar
Ada banyak lowongan, tapi nggak cocok untuk semua orang. Beberapa jurusan yang sebenarnya penting dan ada di kampus, justru lulusannya kesulitan mencari kerja.
5. Ekonomi Makro & Ketidakpastian Perusahaan
Kondisi ekonomi yang makin sulit dan nggak menentu bikin Inflasi tinggi, suku bunga naik, sampai gangguan rantai pasokan. Nah, hal ini bikin perusahaan jadi lebih hati-hati membuka lowongan pekerjaan.
Ini bikin banyak lowongan kosong sulit terbuka atau urgensinya melemah.
Apa yang Bisa Dilakukan? (Solusi Praktis & Mindset)
Oke, jadi kita udah tahu kenapa nyari kerja makin susah sekarang. Tapi kabar baiknya, bukan berarti kita cuma bisa pasrah. Ada beberapa langkah yang bisa bikin peluangmu lebih gede dibanding pesaing lain.
1. Upgrade Skill, Jangan Cuma Andalkan Ijazah
Fakta pahitnya, modal ijazah aja udah nggak cukup. Perusahaan sekarang lebih ngeliat skill praktis yang bisa langsung dipakai di dunia kerja.
Jadi, setelah lulus, bukan berarti proses belajarmu sudah selesai, ya. Bahkan, setelah lulus kamu harus belajar lebih keras lagi agar bisa compete di dunia kerja, Kepowan!
Kamu bisa ikut kursus singkat atau bootcamp sesuai bidang yang kamu incar (misalnya digital marketing, data analyst, desain UI/UX, atau bahasa asing). Jangan lupa juga cari atau bikin project kecil-kecilan buat bangun portfolio.
Selain hard skills dan portfolio, pelajari juga soft skill kaya komunikasi, teamwork, critical thinking.
2. Bangun Personal Branding & Jejak Digital
Zaman sekarang, HRD gampang banget ngecek profil online calon karyawan. Kalau sampai punya jejak dan reputasi digital yang nggak oke, kamu bisa kalah saing sama kandidat lain.
Kamu bisa manfaatin media sosial LinkedIn buat bangun personal branding di dunia profesional.
Jangan cuma sekadar buat akun – lengkapi juga profil sesuai bidang yang relevan, aktif bikin konten di sana, dan berkoneksi dengan orang-orang di industri yang kamu geluti.
Selain itu, kamu juga bisa share hasil kerja dalam bentuk freelance atau project yang kamu bangun di LinkedIn.
3. Ikut Komunitas dan Bangun Koneksi
Percaya sama aku – koneksi itu PENTING BANGET. Kalau kamu kira cuma modal ikut himpunan di kampus ataupun ikut organisasi selama kuliah itu sudah cukup, realitanya masih belum bisa menjamin kamu dapat kerja dari mereka.
Setelah kamu bangun koneksi dan soft skills dari himpunan ataupun organisasi selama kuliah, kamu juga sebaiknya bangun koneksi lebih luas lagi terutama di komunitas yang sesuai dengan industri yang ingin kamu geluti.
Jangan cuma gabung terus diem-dieman aja. Buat dirimu dikenal di komunitas tersebut. Coba untuk aktif bertanya kalau ada pertanyaan ataupun aktif menjawab kalau ada yang nanya.
Selain bisa lebih kenal banyak orang, kamu juga bisa dapat banyak insight dari para praktisi di komunitas tersebut. Gak cuma itu, sangat mungkin kamu akan dapat opportunity baru di sana.
4. Jangan Cuma Nunggu, Tapi Juga Jemput Bola
Nah, nyambung dari poin-poin sebelumnya – lewat aktif di media sosial secara positif, ikut komunitas, dan coba bangun portfolio – kamu sebetulnya sudah mengarah ke mindset jemput bola.
Gini, banyak pencari kerja yang stuck atau susah banget buat dapat kerja gara-gara cuma modal apply di job portal. Faktanya, ada banyak banget kesempatan yang nggak dipublish ke publik (alias cuma ada lewat jalur koneksi).
5. Punya Mindset Fleksibel & Open-Minded
Kadang masalahnya bukan nggak ada kerjaan, tapi ekspektasi kita yang terlalu tinggi di awal. Misalnya, nuntut gaji gede padahal pengalaman masih minim.
🗣️”Tapi, kebanyakan lowongan yang ada gajinya kecil.”
🗣️”Tapi, aku takut kalau kerjanya gak work life balance.”
🗣️”Kalau temennya toksik, gimana?”
Dan tapi-tapi lainnya… Kebanyakan “tapi”.
Nah, biasanya itu salah satu penghambat terbesar kenapa orang cenderung “gengsi” atau “mager” buat cari kerja – yang pada akhirnya nggak dapat kerjaan.
Iya tau. Siapa sih yang nggak mau dapat kerjaan gaji gede, temen asik, dan work life balancenya terjaga?
Coba deh, kamu cari kesempatan yang lebih realistis. Misalnya, kalau kamu adalah “orang baru” di suatu industri dan kebetulan lowongan kerja full time lagi sepi, mungkin kamu bisa ambil freelance atau internship dulu.
Apalagi kalau kamu entry level – jangan gengsi kalau misal gajimu di awal gak sebesar gaji teman-teman seangkatanmu. Kerjaan pertama adalah batu loncatan buat nambah pengalaman.
Dari pengalaman itu, kamu bisa belajar dan berkembang banyak. Nantinya kamu bisa cari kerjaan yang bisa ngasi gaji sesuai ekspetasi.
6. Jaga Mental & Konsistensi
Proses cari kerja itu emang bisa bikin stres. Apalagi kalau ditolak berkali-kali. Tapi inget, semua orang pernah ngalamin fase itu.
Gak ada salahnya kalau kamu istirahat bentar supaya gak burnout dan overthinking. Selain apply kerjaan dan nambah skill, lakukan juga aktivitas produktif lain. Misalnya kaya olahraga, ngelakuin hobi, atau belajar hal baru di luar skill yang kamu asah.
Bahkan, main game ataupun nongkrong sama teman juga nggak ada salahnya kok.
Tapi, ingat. Setelah kamu refreshing, tetap jaga konsistensi buat asah skill dan apply kerjaan, ya!
Waktunya Berdamai, Bangkit, dan Bergerak
Menganggur itu gak enak. Kepomin pernah di titik itu – habis lulus, nggak dapat-dapat kerjaan, CV kosong, dan ngerasa kalah start.
Tapi di situ aku belajar: gak ada yang akan nyelametin kita kalau bukan diri sendiri. Sekecil apa pun langkahmu hari ini, selama itu ke arah yang benar, kamu tetap bergerak.
Sarjana menganggur bukan berarti selamanya kamu akan di bawah. Justru cuma ngeluh dan diam terus bisa jadi awal dari masalah yang lebih besar.
Jadi, yuk, bangkit dan mulai dari apa yang bisa kamu kendalikan. Karena kesempatan dan rezeki bisa datang dari hal yang kita nggak pernah kira sebelumnya.
Jangan Pernah Menyerah!
Cari kerja di zaman sekarang emang gak gampang. Persaingan makin ketat, skill yang dituntut juga terus berubah, sementara peluang gak selalu sebanding sama jumlah pencari kerja.
Aku pun dulu pernah di fase ini – sudah ikut course, sertifikasi, ada pengalaman organisasi juga – tetep aja nyari kerja susahnya setengah mati. Bahkan, statusmu sebagai lulusan kampus terkenal dengan IPK cum laude pun nggak menjamin bakal cepat dapat kerja.
Siapa coba yang nggak ngeluh kalau kaya gitu? Ya, kan?
Tapi kalau cuma berhenti di keluhan, ya hasilnya bakal gitu-gitu aja.
Kuncinya ada di dirimu sendiri. Kamu harus terus action, fleksibel, dan konsisten.
Fleksibel artinya mau belajar hal baru, mau keluar sedikit dari zona nyaman, dan berani coba jalur yang mungkin dulu nggak pernah kebayang. Konsistensi artinya nggak gampang nyerah meski gagal berkali-kali.
Ingat, yang bikin kita kalah itu bukan karena belum dapat kerja, tapi karena kita berhenti nyari cara.
Jadi, daripada bengong nunggu “waktu yang tepat”, kenapa gak mulai gerak dari hal kecil hari ini?Yuk, mulai upgrade skill, perluas koneksi, dan jangan takut mulai dari bawah🔥💪🏻
FAQ
Karena persaingan makin ketat, skill dan pengalaman sering tidak relevan dengan kebutuhan industri, serta kondisi ekonomi yang membuat lowongan terbatas.
Skill digital (data, teknologi, komunikasi online), bahasa asing, critical thinking, serta soft skill seperti teamwork dan komunikasi.
Nggak ada cara instan, tapi memperluas koneksi, aktif di LinkedIn, ikut komunitas, dan upgrade skill praktis bisa memperbesar peluang.
Istirahat sebentar kalau lelah, lakukan hobi atau aktivitas produktif lain, tapi tetap konsisten apply kerja dan asah skill baru.








